This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label unik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label unik. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Februari 2012

Belajar bikin komik di Jago Bikin Komik

JAGO BIKIN KOMIK adalah sebuah komik tutorial menggambar dengan cerita lucu sang penulis skrip HERRAD SYAFRIAN dan di ilustrasikan oleh THOMA PRAYOGA. Pengalaman kocak sang penulis dalam membuat komik menambah cerita menjadi lebih apik dan seru. Panduan menggambarnya pun dibuat sesederhana mungkin agar para pembaca dapat dengan mudah mengerti dan dapat mengaplikasikannya saat menggambar.

Dan semoga komik ini menjadi sahabat setia para komikus yang baru belajar agar dibimbing dan dapat menjadi komikus profesional.

SALAM KOMIK INDONESIA

-KEEP MOVING FORWARD-

HERRAD SYAFRIAN & THOMA PRAYOGA






Sumber : https://www.facebook.com/groups/kbw20/375324419164279/?ref=notif&notif_t=group_activity#!/pages/Jago-Bikin-Komik/157681190966207?sk=wall
 

Sabtu, 18 Februari 2012

Mengunjungi Museum Batik Pekalongan

Menyusuri pantai utara Jawa, kita dapat menemukan berbagai warisan budaya. Batik, yang jadi warisan dunia versi UNESCO, memiliki akar kuat di pantai utara (pantura). Pekalongan, kota di pesisir utara Jawa, adalah salah satunya. Menamakan diri “kota batik”, Pekalongan memang sudah sejak dulu dikenal sebagai salah satu sentra penghasil batik, disamping Yogyakarta dan Solo tentunya.
Tidak punya cukup waktu berkeliling di pusat grosir batik atau perkampungan sentra pembuatan batik, saya mencoba mengunjungi Museum Batik Pekalongan. Mentari yang membakar khas pesisir sudah mulai bergeser ke barat. Jam buka museum hampir habis, tapi sayang rasanya jika tidak berkeliling. Saya membayar tiket masuk museum Rp5.000,- di pintu masuk.

Pengunjung museum yang terletak di Jl. Jatayu ini menempati gedung peninggalan kolonial. Dahulu, gedung dipakai sebagai kantor walikota, dan kantor pabrik gula. Bangunan berlanggam art deco ini disulap menjadi museum dengan tiga ruang pamer.
Saya didampingi pemandu museum berparas ayu memasuki ketiga ruang pamer. Kain-kain batik khas pesisir Jawa di pamerkan di ruangan utama. Dari motif batik Cirebon, Pekalongan, hingga Lasem (Rembang) dapat dijumpai di sini. Canting, dan bahan-bahan yang dipakai dalam pembuatannya turut pula dipamerkan.

Pemandu memang melarang saya memotret dan menyentuh koleksi. Saya mengabaikan larangan pertama. Sambil berkeliling, kamera yang menempel di pinggang saya jepretkan tanpa lampu kilat. Sekedar koleksi, pikir saya singkat!
Saya kurang berminat di ruang pamer kedua, yang memamerkan koleksi batik istri presiden dan wakilnya. Koleksi-koleksi di ruangan ini disumbangkan pertengahan Juli tahun ini, dan saat ini masih dipamerkan. Formalitas dan pencitraan agaknya tidak terpisahkan juga di museum yang buka setiap hari pukul 9.00-15.00 WIB ini.
Ruang pamer terakhir menyuguhkan koleksi kain batik dengan motif-motif khas Yogyakarta dan Solo. Beberapa peristiwa lampau yang turut menyertakan batik pun ditampilkan dalam foto-foto.
Ruang pamer agaknya tidak dapat mengambil hati saya, keingintahuan lebih terpuaskan di selasar workshop. Setelah kompor dinyalakan, lilin-lilin mulai cair, canting-canting mungil pun mulai menari di atas kain mori.
Saya beruntung, bersama beberapa rekan seperjalanan, kami tidak dimintai biaya tambahan. Biasanya, pengunjung yang akan mencoba membatik harus membayar ekstra untuk workshop semacam ini.
Tidak mudah, itu yang saya rasakan ketika mulai menulisi kain, walaupun dengan nama saya sendiri, bukan menggambar bunga, atau motif lainnya. Lilin yang saya goreskan tidak merata, seringkali terlalu banyak di awal, menembus kain menyentuh kulit. Panas.


Blok-blok motif untuk batik cetak juga tersedia, beragam motifnya. Pembilasan dan pewarnaan kain ditampilkan di museum ini dengan sederhana, mungkin sesederhana yang dilakukan para perajin batik. Museum dengan koleksi kurang lebih 1.700-an motif batik ini jelas sayang dilewatkan jika Anda punya waktu mampir disela perjalanan Anda melintasi pantura.


Bagi pecinta batik, berkunjunglah secara rutin. Setiap empat bulan koleksi akan diganti. Mengingat keterbatasan ruang pamer, tidak semua koleksi ditampilkan sekaligus, tapi bergiliran. Sayang, koleksi motif batik Semarang dan Maluku yang saya harap dapat dijumpai di sini belum ada. Mungkin lain waktu ketika saya kembali, koleksi yang saya harapkan sudah bisa dinikmati.
Sebelum menempuh kembali perjalanan, sempatkanlah menyeberang jalan, dan mengabadikan foto di tugu-tugu aksara bermotif batik yang membentuk kata “BATIK”.









Sumber : http://ranselkecil.com/tempat/mengunjungi-museum-batik-pekalongan/

Praha, Si Tua yang Eksotis

The city is like fairy tale“, demikian kata kolega saya yang berasal dari Jerman mengomentari kecantikan ibukota negara tetangganya. Ya, ia berkomentar tentang Praha, ibukota Republik Ceko. Tidak ada lagi istilah Cekoslowakia, mengingat Ceko dan Slowakia telah memisahkan diri menjadi negara merdeka sejak tahun 1993. Benar saja, selama kurang lebih tujuh jam perjalanan bus dari Budapest, Hongaria, tempat saya menimba ilmu, saya disuguhi pemandangan yang agak berbeda. Memasuki ‘gerbang’ Praha, pertama-tama kita akan melihat banyak perusahaan multinasional di kanan dan kiri maupun gedung-gedung bertingkat. Dari kejauhan, menariknya, bangunan Prague Castle yang menjulang dapat terlihat di antara bukit-bukit. Saya semakin tidak sabar dibuatnya.
Tiba di stasiun bus Florence, berbekal single ticket seharga 24 koruna (sekitar 12.000 rupiah) saya yang dijemput kawan CouchSurfing lantas menjajal transportasi publik di Ceko. Seperti tempat-tempat lain di Eropa pada umumnya, jalur metro, tram, dan bus di Ceko sangat terpadu. Tiket saya berlaku satu jam dan dapat digunakan untuk semua jenis transportasi. Langit yang semakin gelap membuat saya semakin terdorong untuk sesegera mungkin sampai di ‘centrum‘ atau pusat kota.

Old Town Square! Saya masih ternganga betapa indahnya bangunan-bangunan asli warisan Bohemia di sekitarnya. Powder Gate, sebuah gerbang kuno mistik dari abad ke-13 akan menyambut Anda begitu melangkahkan kaki menuju Old Town. Tak jauh dari situ terdapat Municipal House, yakni bangunan cantik khas Art Nouveau yang dalam masa Revolusi Velvet digunakan sebagai tempat pertama bertemunya pemerintah komunis Cekoslowakia dan pemerintahan sipil yang baru. Tibalah saatnya berkunjung ke Old Town Hall, tempat hampir seluruh turis internasional berkumpul. Jangan lupakan pengalaman seumur hidup melihat jam astronomikal atau Old Town Orloj yang tersohor! Setiap satu jam sekali, jam ini berbunyi dan uniknya, terdapat boneka-boneka yang bergerak, lengkap dengan suasana mistis seperti keberadaan tengkorak ataupun hantu-hantu (masih dalam boneka).





 Malam itu pula saya berjalan melewati Charles Bridge, yang juga menjadi salah satu ikon Praha. Jembatan tertua di Praha ini secara strategis menghubungkan Old Town dan Lesser Town. Di jembatan ini juga mengalir Sungai Vltava. Saya tidak tahu alasannya, tetapi jelas sekali kesan yang saya dapat tentang senja di Praha adalah tua, mistis, dan senyap. Berbeda sekali dengan kegemerlapan kota Budapest, misalnya. Mungkin ini yang memang ditonjolkan oleh pariwisata di Praha, bahwa untuk menarik sebanyak-banyaknya wisatawan adalah dengan memiliki keunggulan kompetitif. Ah, andai saja pariwisata Indonesia memiliki pemahaman yang sama, pikirku.






Keesokan harinya saya bepergian ke salah satu daerah wajib-kunjung di Praha, yakni Prague Castle. Inilah kompleks kastil terluas di seluruh Praha. Di dalamnya terdapat St. Vitus Cathedral yang bernuansa gothic. Sulit mendeskripsikannya, karena selain saya bukan ahlinya, katedral ini menyimpan pesona tersendiri. Sisi-sisi yang runcing menjulang, hitam, ditambah patung-patung iblis semakin menambah kesan menyeramkan. Tepat di belakang katedral ini terdapat area yang dinamakan Hradcany. Bangunan-bangunan di sekitarnya tidak kalah cantik, semisal Schwarzenberg Palace yang mudah dikenali keberadaannya berupa arsitektur kaya khas Sgraffito yang dibangun pada abad ke-16. Pemandangan Golden Lane tidak boleh terlewatkan, yakni jalanan tersempit di kawasan Prague Castle bahkan Praha sekalipun. Di dalamnya terdapat miniatur-miniatur rumah di masa lalu lengkap dengan aksesorisnya.
Di sisi baratdaya Hradcany ini, terdapat tempat wisata yang tidak kalah menarik. Kompleks gereja Strahov Monastery, adalah salah satu yang tertua di Republik Ceko. Kompleks ini bergaya Baroque dan ditemukan pada tahun 1140. Di tempat lain, Lesser Town menawarkan gereja St. Nicholas, masih bergaya sama (Baroque) dengan arsitektur yang juga indah. Atau Josefov, tempat bermukimnya orang-orang Yahudi di Praha. Lokasi yang sangat dekat dari Old Town ini terkenal berkat Parizska Street-nya (baca: Paris), kawasan super elit dimana puluhan bahkan ratusan rumah mode terkenal dunia berkumpul. Old New Synagogue, sinagog tertua di seluruh daratan Eropa berada di sini. Terdapat pula Old Jewish Cemetery, tempat dimana orang-orang Yahudi dikebumikan maupun sinagog lain yang tidak kalah tuanya, Pinkas Synagogue. Saya sendiri sempat mengunjungi beberapa bangunan berarsitektur megah lain seperti National Museum (Wenceslas Square) dan National Theatre yang keduanya bergaya Neo-Renaissance atau The Dancing House yang terkenal berkat gedungnya yang tak lazim (baca: miring). Kesemuanya semakin meyakinkan saya bahwa Praha adalah kota tua yang budaya Eropa-nya amat kental sekaligus beragam.

Seperti biasa, setiap awal minggu perkuliahan dosen saya selalu menanyakan ke manakah kami selama liburan. Ketika tiba giliran saya, saya menjawab dengan mantap: Ceko! Ia, yang orang Hongaria, bertanya kembali (masih dalam bahasa Hongaria) yang kurang lebih artinya “Which one is the best, Budapest or Prague?” Karena memang bingung, awalnya saya jawab keduanya sama-sama kota yang cantik. Tetapi karena dipaksa memilih, saya katakan “Prague, because the city seems older than Budapest”. Dosen saya langsung berujar, “Yes, exactly, because Prague was safer during World War I and II. But here in Budapest, bombs were everywhere at that time”.
 
Sumber : http://ranselkecil.com/catatan/praha-si-tua-yang-eksotis/

Kamis, 26 Januari 2012

Indonesia Bakal Memiliki Kereta Peluru Supercepat

TEMPO.CO, DEPOK - Pemerintah berencana mengoperasikan kereta api supercepat di jalur Jakarta-Surabaya. Kereta yang diberi nama Argo Cahaya ini akan melayani sembilan stasiun sepanjang rute dua kota tersebut. "Kurang dari tiga jam sudah sampai di Surabaya, yang berjarak 665 kilometer dari Jakarta," kata Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono, Rabu 25 Januari 2012.
Dia menjelaskan, kereta supercepat ini akan mengadopsi kereta sejenis -- Shinkansen-- yang dioperasikan di Jepang. Dana yang dibutuhkan untuk megaproyek ini sekitar Rp 150-180 triliun. Untuk membangunnya, dibutuhkan waktu lima tahun.
Untuk tahap awal, kata Bambang, pemerintah akan melakukan studi proyek kereta supercepat ini. "Persiapan Argo Cahaya harus matang. Memang sudah ada investor, tapi baru ngomong-ngomong saja.”
Beberapa investor yang akan diajak bekerja sama berasal dari Jepang dan Cina. Rencananya, pembiayaan proyek ini berasal dari anggaran negara dan swasta. "Tak mungkin hanya dari swasta.”
Terkait dengan pembangunan jalur ganda (double track) Jakarta-Surabaya, menurut Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api Asril Syafei, masih kekurangan dana sebesar sebesar Rp 1,8 triliun. »Tambahan ini demi target operasional. Jika tidak, akan mundur terus,” ujarnya kemarin.
Cepat atau lambatnya jalur ganda ini bergantung pada komitmen pemerintah dalam membiayai proyek. Asril menilai pemerintah belum optimal mendukung proyek jalur kereta ini. Meski begitu, kata dia, pihaknya menargetkan proyek itu selesai pada 2013.
Jalur ganda ini nantinya tidak hanya melayani angkutan penumpang, tapi juga angkutan kontainer dari Jakarta ke Surabaya. Jika rampung dibangun, waktu tempuh kereta akan lebih singkat. »Bisa kurang dari 12 jam.”
Sebelumnya, Deputi Bidang Sarana dan Prasarana Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional, Dedy Supriadi Priatna, mengatakan total dana yang dibutuhkan untuk jalur ganda ini sebesar Rp 9,8 triliun. Menurut dia, kekurangan biaya sebesar Rp 1,8 triliun akan diusulkan dalam APBN Perubahan 2012.

Sumber : http://id.berita.yahoo.com/indonesia-bakal-memiliki-kereta-peluru-supercepat-192921569.html

Selasa, 24 Januari 2012

Sejarah Kota Tua Jakarta

Kota Tua Jakarta, juga dikenal dengan sebutan Batavia Lama (Oud Batavia), adalah sebuah wilayah kecil di Jakarta, Indonesia. Wilayah khusus ini memiliki luas 1,3 kilometer persegi melintasi Jakarta Utara dan Jakarta Barat (Pinangsia, Taman Sari dan Roa Malaka).
Dijuluki "Permata Asia" dan "Ratu dari Timur" pada abad ke-16 oleh pelayar Eropa, Jakarta Lama dianggap sebagai pusat perdagangan untuk benua Asia karena lokasinya yang strategis dan sumber daya melimpah.

Sejarah
Tahun 1526, Fatahillah, dikirim oleh Kesultanan Demak, menyerang pelabuhan Sunda Kelapa di kerajaan Hindu Pajajaran, kemudian dinamai Jayakarta. Kota ini hanya seluas 15 hektar dan memiliki tata kota pelabuhan tradisional Jawa. Tahun 1619, VOC menghancurkan Jayakarta di bawah komando Jan Pieterszoon Coen. Satu tahun kemudian, VOC membangun kota baru bernama Batavia untuk menghormati Batavieren, leluhur bangsa Belanda. Kota ini terpusat di sekitar tepi timur Sungai Ciliwung, saat ini Lapangan Fatahillah.
Penduduk Batavia disebut "Batavianen", kemudian dikenal sebagai suku "Betawi", terdiri dari etnis kreol yang merupakan keturunan dari berbagai etnis yang menghuni Batavia.
Tahun 1635, kota ini meluas hingga tepi barat Sungai Ciliwung, di reruntuhan bekas Jayakarta. Kota ini dirancang dengan gaya Belanda Eropa lengkap dengan benteng (Kasteel Batavia), dinding kota, dan kanal. Kota ini diatur dalam beberapa blok yang dipisahkan oleh kanal . Kota Batavia selesai dibangun tahun 1650. Batavia kemudian menjadi kantor pusat VOC di Hindia Timur. Kanal-kanal diisi karena munculnya wabah tropis di dalam dinding kota karena sanitasi buruk. Kota ini mulai meluas ke selatan setelah epidemi tahun 1835 dan 1870 mendorong banyak orang keluar dari kota sempit itu menuju wilayah Weltevreden (sekarang daerah di sekitar Lapangan Merdeka). Batavia kemudian menjadi pusat administratif Hindia Timur Belanda. Tahun 1942, selama pendudukan Jepang, Batavia berganti nama menjadi Jakarta dan masih berperan sebagai ibu kota Indonesia sampai sekarang.
Tahun 1972, Gubernur Jakarta, Ali Sadikin, mengeluarkan dekrit yang resmi menjadikan Kota Tua sebagai situs warisan. Keputusan gubernur ini ditujukan untuk melindungi sejarah arsitektur kota — atau setidaknya bangunan yang masih tersisa di sana.
Meski dekrit Gubernur dikeluarkan, Kota Tua tetap terabaikan. Banyak warga yang menyambut hangat dekrit ini, tetapi tidak banyak yang dilakukan untuk melindungi warisan era kolonial Belanda.

Tempat Yang sudah dihancurkan
Dalam pengembangan daerah Jakarta, pemprov DKI Jakarta menghancurkan beberapa bangunan atau tempat yang berada di daerah kota Tua Jakarta engan alasan tertentu. Tempat tersebut adalah:
  • Benteng Batavia
  • Gerbang Amsterdam (lokasinya berada dipertigaan Jalan Cengkeh, Jalan Tongkol dan Jalan Nelayan Timur. Dihancurkan untuk memperlebar akses jalan)
  • Jalur Trem Batavia (Jalur ini pernah ada di kota Batavia, tetapi sekarang sudah ditimbun dengan aspal. Karena Presiden Soekarno menganggap Trem Batavia yang membuat macet.
Tempat Menarik dan Bersejarah
    Sebagai permukiman penting, pusat kota, dan pusat perdagangan di Asia sejak abad ke-16, Oud Batavia merupakan rumah bagi beberapa situs dan bangunan bersejarah di Jakarta:
    • Gedung Arsip Nasional
    • Gedung Chandranaya
    • Vihara Jin De Yuan (Vihara Dharma Bhakti)
    • Petak Sembilan
    • Pecinan Glodok dan Pinangsia
    • Gereja Sion
    • Tugu Jam Kota Tua Jakarta
    • Stasiun Jakarta Kota
    • Museum Bank Mandiri
    • Museum Bank Indonesia
    • Standard-Chartered Bank
    • Kota's Pub
    • VG Pub Kota
    • Toko Merah
    • Cafe Batavia
    • Museum Sejarah Jakarta atau Museum Fatahillah (bekas Balai Kota Batavia)
    • Museum Seni Rupa dan Keramik (bekas Pengadilan Batavia)
    • Lapangan Fatahillah
    • Replika Sumur Batavia
    • Museum Wayang
    • Kali Besar (Grootegracht)
    • Hotel Former
    • Nieuws van de Dag
    • Gedung Dasaad Musin
    • Jembatan Tarik Kota Intan
    • Galangan VOC
    • Menara Syahbandar
    • Museum Bahari
    • Pasar Ikan
    • Pelabuhan Sunda Kelapa
    • Masjid Luar Batang
    Saat ini, banyak bangunan dan arsitektur bersejarah yang memburuk kondisinya, seperti: Museum Sejarah Jakarta (bekas Balai Kota Batavia, kantor dan kediaman Gubernur Jenderal VOC), Museum Maritim Nasional, Pelabuhan Sunda Kelapa, dan Hotel Omni Batavia.
    Tetapi, masih ada usaha perbaikan Kota Tua, khususnya dari berbagai organisasi nirlaba, institusi swasta, dan pemerintah kota yang telah bekerjasama untuk mengembalikan warisan Kota Tua Jakarta. Tahun 2007, beberapa jalan di sekitar Lapangan Fatahillah seperti Jalan Pintu Besar dan Jalan Pos Kota, ditutup sebagai tahap pertama perbaikan.

    Sumber :http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Tua_Jakarta

    Rabu, 18 Januari 2012

    Gedong Juang 45 dan Ceritanya

    Bekasi memiliki peran penting dalam perkembangan sejarah di Indonesia atau di Nusantara, baik itu sejarah Peradaban maupun sejarah Perjuangan kemerdekaan, juga sebagai sasaran strategi Pembangunan Nasional, selain gegrafisnya yang sangat strategis, Bekasi juga memiliki countur alam yang sangat  refresentatif, karna merupakan hamparan dataran dan memiliki beberapa kali besar, juga memiliki laut dan pantai

    Dalam sejarah Peradaban, Bekasi memiliki sejarah berdirinya Kerajaan yang merupakan Kerajaan tertua di Nusantara, yaitu Kerajaan Taruma Negara yang mulai tercatat dalam sejarah sejak tahun 358 M, Taruma Negara, selain sebagai sebuah Pemerintahan dia juga meruapakan sebuah kilas peradaban kehidupan Manusia, pemikiran-pemikiran yang strategic dan visioner sudah terbangun pada masa itu,  hal yang masih dapat kita lihat dan kita saksikan sampai hari ini sebagai bukti dari visi dan pemikiran para raja- raja Taruma Negara adalah bentangan Kali Bekasi dan Kali citarum, yang dibangun sebagai kanal Banjir dan pengairan bagi persawahan penduduk pada masa itu, selain sebagai kanal banjir, Kali Bekasi  yang membentang dari  ujung babelan sampai Bogor, juga merupakan Kali yang dibangun secara Spektakuler, yaitu dibangun dalam waktu 21 hari oleh Raja Purnawarman pada sekitar tahun 417 M.

    Dalam Sejarah Perjuangan merebut Kemerdekaan, Bekasi  juga memiliki andil besar dalam banyak pertempuran dan perlawanan untuk mengusir penjajahan baik Eropa (Belanda dan sekutu) maupun Asia (jepang), Banyak cerita sejarah terukir, banyak kenangan tertinggal, banyak Pahlawan Tampil dari Bekasi, juga banyak pejuang yang gugur, hal ini sampai menginspirasi seorang  Chairil Anwar  mengenang Bekasi dalam Puisinya “karawang- Bekasi “ .

    Salah satu bukti peninggalan sejarah itu adalah yang hari ini kita berada didalamnya, yaitu gedoeng joeang 45 atau atau yang biasa orang Bekasi bilang gedong  juang Tambun, atau yang disebut juga oleh orang Tambun sebagai gedong tinggi, menurut sejarahnya gedung juang 45 dibangun pada tahun 1906 oleh seorang Tuan Tanah Cina bernama Kow Tjing Kie.

    Ketika terjadi revolusi fisik, daerah Tambun dan Cibarusah menjadi pusat kekuatan pasukan republik Indonesia (RI). Gedung ini merupakan salah satu gedung bersejarah yang turut menjadi saksi perjuangan rakyat Bekasi, saat terjadi revolusi kemerdekaan, garis demarkasi yang memisahkan daerah Republik Indonesia dengan daerah kekuasaan Belanda terletak didaerah Sasak Jarang atau dikenal oleh orang Tambun sebagai Sasak Bagong, sekarang menjadi perbatasan antara Kecamatan Bekasi Timur dengan Kecamatan Tambun Selatan dan menjadi perbatasan antara Kota dan Kabupaten Bekasi.
    Setelah pasukan Belanda meninggalkan Bekasi. Gedung Juang ini dikuasai oleh seorang Tuan Tanah keturunan Cina bernama Kouw Oen Huy, dia adalah Tuan tanah yang berhasil menguasai ratusan hektare tanah di wilayah Tambun, bahkan dia juga memiliki perkebunan karet, lalu oleh Masyarakat ketika itu dia diberi gelar ‘Kapitaen’,dia tidak hanya menguasai tanah di wilayah Tambun saja, tapi juga sampai ke daerah Tekuk Pucung.
    Tuan tanah Kouw Oen Huy, menguasai gedung  ini hingga 1942. Selanjutnya, pada tahun 1943, gedung bersejarah ini berada di bawah pengawasan pemerintahan Jepang hingga tahun 1945. Tentara Jepang, juga menggunakan gedung ini sebagai pusat kekuatannya dalam menjajah Indonesia.
    Pada masa perjuangan kemerdekaan 1945, bangunan ini, diambil alih oleh Komite Nasional Indonesia (KNI) untuk dijadikan sebagai Kantor Kabupaten Jatinegara. Pada masa itu, Bekasi dijadikan sebagai daerah front pertahanan, gedung ini juga berfungsi sebagai Pusat Komando Perjuangan RI dalam menghadapai Tentara Sekutu yang baru selesai perang dunia kedua.
    Digedung ini juga terjadinya perudingan pertukaran tawanan perang, Lokasi pelaksanaan pertukaran tawanan sendiri dilakukan di dekat Kali Bekasi yang kini tidak jauh dari rumah pegadaian Bekasi. Banyak tentara Jepang meninggal dibantai dan dibuang di Kali Bekasi, membuat setiap tahun tentara Jepang selalu melakukan tabur bunga di kali yang membentang kota Bekasi ini.
    Pada masa perjuangan fisik, Gedung ini dijadikan sebagai Pusat Komando Perjuangan RI, dan  selalu menjadi sasaran tembak pesawat-pesawat udara dan meriam Belanda, namun banyak keanehan yang terjadi pada gedung ini, ketika meriam Belanda dijatuhkan di atas bangunan tersebut, ternyata meriam itu tidak meledak.
    Pada akhir 1947, Belanda menghianati perundingan Linggarjati, Belanda mengadakan aksi pertama yang dikenal dengan Agresi Militer Belanda I, mengingat gedung ini merupakan markas dan juga basis pertahanan Tentara RI, maka tidak mengherankan bila di sekitar gedung ini sering terjadi pertempuran.
    Gedung ini pernah di duduki Belanda/NICA hingga tahun 1949. Namun gedung ini kembali berhasil direbut oleh pejuang Bekasi pada awal 1950.
    Setelah masa perjuangan merebut kemerdekaan, gedung ini mengalami berbagai perkembangan dan perubahan fungsi. Selain bangunan bersejarah, bangunan tersebut sering digunakan sebagai pusat aktivitas diantaranya.
    Tahun 1950 setelah Tambun dikuasai lagi oleh Republik Indonesia, gedung ini diisi dan ditempati pertama sekali oleh Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Bekasi.
    Tahun 1951, di gedung ini sempat diisi oleh pasukan TNI Angkatan Darat Batalyon “Kian Santang”. Batalyon Kian Santang ini sekarang menjadi bagian dari Kodam III Siliwangi.
    Bangunan yang berada di bagian timur Bekasi ini, juga sempat dijadikan sebagai tempat persidangan-persidangan DPRDS, DPRD-P, DPRD TK II Bekasi dan DPRD-GR hingga tahun 1960.
    Tahun 1962, kemudian gedung ini dibeli Pemerintah Propinsi Jawa Barat. Ketika peristiwa Gerakan G 30S/PKI pecah, gedung ini juga sempat dijadikan sebagai penampungan Tahanan Politik (Tapol) PKI.
    Juga pernah digunakan sebagai kantor Dinas Pertanian dan Dinas-dinas lainnya sampai akhir 1982.
    Mengingat letaknya yang strategis, pada masa kepemimpinan Bupati Bekasi dijabat oleh Bapak H.Abdul Fatah, bangunan ini sempat dijadikan sebagai tempat perkuliahan bagi mahasiswa Akademi Pembangunan Desa (APD) yang merupakan cikal bakal pembangunan perguruan tinggi di Bekasi, dan kini dikenal dengan Universitas Islam 45 (Unisma).
    Gedung ini juga sempat digunakan sebagai Kantor BP-7 dan Kantor Legiun Veteran. Tahun 1999, gedung ini juga pernah menjadi sekretraist Pemilu (PPD II) pada pemilu pasca Orde baru (1999) lalu menjadi kantor Dinas Kebersihan dan Pertamanan, Sekretarit Kantor Pepabri dan Wredatama. Kini gedung yang menghadap timur ini, menjadi kantor Dinas Lingkungan Hidup dan Kantor Tenaga Kerja Pemertintah Kabupaten Bekasi.
    Diakhir tahun 90-an, Pemerintah Kabupaten Bekasi memutuskan membangun kantor Dinas Pasar yang menempati sudut halaman Gedung ini.

    Sumber : http://denhilal.com/?p=336

    10 Kota Terbesar Indonesia dan Makanan Khasnya

    Indonesia terdiri dari 33 provinsi dengan jumlah penduduk 237.556.363 jiwa (menurut perkiraan sensus 2010) dan memiliki beberapa kota-kota besar dengan jumlah penduduk di kota-kota besar tersebut di atas 1 juta penduduk. Setiap kota-kota besar ini memiliki keadaan perekonomian, kebudayaan, infrastruktur yang berbeda-beda, termasuk untuk kuliner atau makanan khasnya. Berikut ini adalah 10 makanan khas Indonesia dari 10 kota besar di Indonesia sebagai rujukan wisata kuliner.




















    1. Asinan Jakarta dari Jakarta

    Jakarta adalah ibukota negara Indonesia juga merupakan kota terbesar di Indonesia. Jakarta kota metropolitan, pusat segala pemerintahan, perdagangan, industri, perekonomian hampir semua ada di Jakarta. Jakarta sebagai propinsi daerah khusus istimewa (DKI) memiliki populasi penduduk yang sangat padat yaitu 9.607.787 jiwa (menurut sensus penduduk 2010). Dengan segala dinamikanya Jakarta juga sangat menarik untuk dijadikan salah satu tujuan wisata termasuk wisata kuliner. Berikut ini adalah beberapa makanan khas Jakarta (termasuk Betawi); Asinan Jakarta, Soto Betawi, Kerak Telor, Ketoprak, Bir Pletok, Roti Buaya, Nasi Kebuli, Es Teler, Lontong Sayur Khas Betawi dan lain sebagainya.
    Asinan Jakarta dari Jakarta, Makanan Khas Indonesia

    2. Lontong Balap dari Surabaya

    Surabaya sebagai ibukota provinsi Jawa Timur termasuk kota terbesar kedua di Indonesia dengan populasi penduduk sebanyak 2.765.487 jiwa. Surabaya menjadi pusat bisnis, perekonomian, perdagangan, industri, pendidikan di wilayah Indonesia bagian timur. Surabaya dikenal sebagai Kota Pahlawan dan memiliki beberapa objek wisata yang menarik. Makanan khas Surabaya juga sangat terkenal seperti; Lontong Balap, Rawon, Rujak Cingur, Tahu Tek, Pecel Surabaya dan lainnya.
    Lontong Balap dari Surabaya, Makanan Khas Indonesia

    3. Nasi Timbel dari Bandung

    Bandung adalah salah satu kota terbesar di Indonesia dan merupakan ibukota provinsi Jawa Barat, dengan populasi penduduk sebanyak 2.394.873 jiwa. Banyak julukan untuk Bandung seperti Kota Kembang, Paris Van Java, kota belanja karena banyak terdapat factory outlet di Bandung. Bandung juga merupakan kota tujuan wisata dan berangsur-angsur menjadi kota wisata kuliner. Bandung memiliki makanan khas yang sangat terkenal seperti; Karedok, Batagor, Siomay, Nasi Timbel, Peuyeum, Es Goyobod, Colenak, Gurame Bakar, Serabi, Soto Bandung, Ambokueh, Oncom, dan masih banyak lagi.
    Nasi Timbel dari Bandung, Makanan Khas Indonesia

    4. Bika Ambon dari Medan

    Medan adalah ibukota provinsi Sumatera Utara dan merupakan salah satu kota terbesar ke empat di Indonesia dengan jumlah penduduk 2.097.610 jiwa. Medan merupakan pintu gerbang Indonesia wilayah bagian barat. Medan memiliki objek wisata yang terkenal seperti Brastagi, Danau Toba dll. Medan juga memiliki wisata kuliner yang terkenal seperti; Soto Medan, Arsik, Lemang, Lomok-Lomok, Pisang Molen, Sambel Hebi, Tipa-Tipa dan lain sebagainya. Bika Ambon merupakan penganan khas Medan, walaupun bernama “Ambon” (nama kota di Maluku) namun Bika Ambon adalah asli Medan.
    Bika Ambon dari Medan, Makanan Khas Indonesia

    5. Lumpia dari Semarang

    Semarang adalah ibukota provinsi Jawa Tengah dan merupakan salah satu kota terbesar di Indonesia dengan populasi penduduk sekitar 1.555.984 jiwa. Semarang tengah giat-giatnya menggalakan sektor pariwisatanya. Semarang juga memiliki wisata kuliner yang terkenal seperti; Lumpia Semarang, Wingko Babat, Bandeng Presto, Tahu Gimbal, Soto Semarang, Sego Goreng Babat Semarang, dan lain sebagainya.
     Lumpia dari Semarang, Makanan Khas Indonesia

    6. Pempek dari Palembang

    Palembang merupakan ibukota Sumatera Selatan dan menjadi salah satu kota terbesar di Indonesia dengan jumlah penduduk sekitar 1.455.284 jiwa. Baru-baru ini Palembang sukses menjadi tuan rumah penyelenggaraan pesta olahraga Asia Tenggara “Sea Games” ke 26 tanggal 11-22 November 2011. Palembang dijuluki sebagai “Bumi Sriwijaya” memiliki objek wisata dan wisata kuliner yang terkenal. Banyak etnis Tionghoa yang tinggal di Palembang dan berpengaruh pada kuliner Palembang yang merupakan hasil asimilasi dari etnis Tionghoa dan Melayu, seperti; Pempek, Tekwan, Model, Laksan, Mie Celor, Lakso, Pindang Patin, Malbi, Tempoyak, Otak-otak, Kemplang, Kue Sarikayo, dan lain sebagainya.
    Pempek dari Palembang, Makanan Khas Indonesia

    7. Coto Makasar dari Makassar

    Makassar adalah ibukota provinsi Sulawesi Selatan dan merupakan salah satu kota terbesar di Indonesia dengan populasi penduduk sebanyak 1.338.663 jiwa. Makassar menjadi kota besar di Indonesia karena pembangunan di Makassar melaju dengan pesat. Makasar memiliki wisata yang terkenal seperti; Pantai Losari, Fort Rotterdam, Benteng Sombaopu, Trans Studio dll. Makassar juga memiliki makanan khas yang terkenal seantero nusantara seperti; Coto Makassar, Sop Konro, Roti Maros, Pisang Ijo, Es Palubutung, Jalangkote, Dangke, Kapurung dan lainnya.
    Coto Makasar dari Makassar, Makanan Khas Indonesia

    8. Sambal Belacan dari Pekanbaru

    Pekanbaru merupakan ibukota provinsi Riau dan salah satu kota terbesar di Indonesia dengan populasi pennduduk sebanyak 897.767 jiwa. Pekanbaru sedang dikembangkan menjadi kota dagang dengan keragaman suku dan etnis. Pekanbaru memiliki beberapa makanan khas yang terkenal seperti; Sambal Belacan, Gulai Sambal Belacan, Juice Tiga Rasa, Gender Ketan Hitam, Kue Bangket Jeruk Nipis dan lain sebagainya.
    Sambal Belacan dari Pekanbaru, Makanan Khas Indonesia

    9. Rendang dari Padang

    Padang adalah ibukota provinsi Sumatera Barat dan merupakan salah satu kota terbesar di Indonesia. Padang menjadi pusat perekonomian di Sumatera Barat salah satunya adalah pabrik semen yang terkenal, PT Semen Padang. Pariwisata di Padang berkembang pesat. Padang memiliki makanan khas yang sangat terkenal di seluruh Indonesia bahkan masakan Rendang terkenal hingga luar negeri. Bahkan warung Padang dapat ditemui dengan mudah dimana saja. Berikut ini adalah makanan khas Padang; Rendang, Dendeng Balado, Gulai, Kalio Dagiang, Sate Padang, Sambal Ijo, Ayam Pop, Paru Goreng, dan masih banyak lagi.
    Rendang dari Padang, Makanan Khas Indonesia

    10. Gudeg dari Yogyakarta

    Yogyakarta atau Jogja merupakan propinsi daerah istimewa yang memiliki empat kabupaten, dengan penduduk sekitar 3.452.390 jiwa (menurut sensus 2010), menjadi salah satu kota besar di Indonesia. Jogja sangat kental dengan kebudayaan dan adat istiadat. Jogja juga dikenal sebagai kota pelajar, karena ada sekitar 136 jumlah perguruan tinggi di Provinsi DIY. Jogja juga merupakan kota wisata dan memiliki banyak objek wisata yang terkenal. Jogja juga terkenal dengan kota Gudeg, makanan khas Jogja. Jogja juga memiliki beberapa makanan khas sebagai wisata kuliner, seperti; Bakmi Jawa, Bakpia, Gudeg, Wedang Secang, Jadah Bacem, Nasi Kucing, Sambel Goreng Krecek, Sate Klathak, Kopi Jos dan masih banyak lagi.
    Gudeg dari Yogyakarta, Makanan Khas Indonesia


    Sumber : http://top10.web.id/geografi/10-kota-terbesar-indonesia-dan-makanan-khasnya

    Sabtu, 14 Januari 2012

    Penghancur atau Penyelamat Industri Musik?

    Revolusi audio digital pada awal 1980-an telah mengubah drastis industri musik. Saat ini kebanyakan bunyi-bunyi rekaman yang kita dengar telah berubah menjadi bit-bit elektronik. Mereka berseliweran di dunia maya dan siap diunduh – baik legal maupun ilegal – dengan cepat.

    Berikut ini adalah beberapa fenomena yang tercatat dalam sejarah musik digital. Apakah mereka menghancurkan industri musik? Atau justru menyelamatkan?

    Andalah yang menentukan.
    MP3
    Karlheinz Brandenburg dkk. telah mengubah industri musik dengan sistem kompresi audio yang mereka kerjakan, MPEG Audio Layer 3 (atau lebih akrab disebut MP3). File musik menjadi amat berukuran langsing dan akrab dengan banyak pemutar musik. Namun karena ini pulalah, karya musik jadi lebih rawan dibajak dan dipertukarkan tanpa izin.

    Napster
    Ketika pertama kali dirilis tahun 1999, aplikasi Napster belum banyak dilirik orang. Namun setelah digugat industri musik karena dianggap melanggar hak cipta, barulah Napster populer. Melanjutkan kehebatan MP3, Napster memungkinkan orang bertukar berkas secara gratis melalui Internet.

    iTunes
    Pemutar musik karya Apple yang diberi nama iTunes berhasil tampil sebagai platform mendapatkan musik digital secara legal (dan membayar). Di satu sisi, pembajakan di Internet bisa ditekan. Tapi di sisi lain, industri musik merana karena konsumen pelan-pelan melupakan album fisik.

    International Federation of the Phonographic Industry (IFPI), federasi yang menaungi industri rekaman dunia, melaporkan penjualan rekaman musik terjun bebas dari sekitar $ 26 miliar (2000) menjadi hanya $16 miliar (2010).

    RBT
    Sering juga disebut “caller tunes”, fasilitas ini juga cukup populer di banyak negara. Dengan fasilitas ini para pelanggan dapat mendengar karya musik atau suara tertentu untuk menggantikan nada sambung biasa.

    Bagi pengguna layanan seluler di Indonesia, RBT sudah tak asing lagi. Saking ngetopnya, RBT di Indonesia bisa memberikan pemasukan hingga 90 persen kepada industri musik. Tak heran ketika RBT hendak dihapus menyusul kasus sedot pulsa, banyak artis yang protes sebab pendapatan mereka sangat tergantung pada penjualan RBT. Terlihat jelas, album fisik mulai dikesampingkan oleh artis dan industri musik kita.

    Cloud di Google Music dan Amazon
    Bayangkan file musik yang Anda punya bisa diakses kapan dan di mana saja via Internet. Inilah basis layanan “cloud” yang diberikan Google Music dan Amazon. Kita menyimpan koleksi musik kita dengan rapi di cloud, dan mendengarkannya lewat aplikasi yang tertanam di komputer atau gadget kita.

    Cloud juga melayani pembelian legal untuk karya-karya musik yang jumlahnya sangat banyak. Pasar musik online global sekitar 500 juta orang memang menjadi sasaran utama layanan ini.

    Spotify
    Layanan ini tak jauh berbeda dengan cloud, hanya saja ia lebih menyatu dengan media sosial. Keunggulan Spotify yang utama (mungkin) adalah perkongsiannya dengan Facebook.

    Dengan integrasi media sosial ini, Spotify berharap bisa menjadi platform berbagi informasi tentang musik. Menurut kabar, Spotify juga menekankan pada model “playlist” yang bisa diakses di mana pun via Internet—dan dengan model langganan yang lebih fleksibel.

    Beli album musik atau single baru pun tak masalah, karena sudah banyak label yang bergabung dalam platform ini. Kabarnya kita bisa berlangganan lagu atau playlist per bulan. Sayangnya, belum tersedia di Indonesia.

    Sumber : http://id.omg.yahoo.com/blogs/mohammed-ikhwan/penghancur-atau-penyelamat-industri-musik-.html

    Kamis, 12 Januari 2012

    Asal - usul sebuah Tempe

    Tidak seperti makanan kedelai tradisional lain yang biasanya berasal dari Cina atau Jepang, tempe berasal dari Indonesia. Tidak jelas kapan pembuatan tempe dimulai. Namun demikian, makanan tradisonal ini sudah dikenal sejak berabad-abad lalu, terutama dalam tatanan budaya makan masyarakat Jawa, khususnya di Yogyakarta dan Surakarta. Dalam bab 3 dan bab 12 manuskrip Serat Centhini dengan seting Jawa abad ke-16 (Serat Centhini sendiri ditulis pada awal abad ke-19) telah ditemukan kata "tempe", misalnya dengan penyebutan nama hidangan jae santen tempe (sejenis masakan tempe dengan santan) dan kadhele tempe srundengan. Hal ini dan catatan sejarah yang tersedia lainnya menunjukkan bahwa mungkin pada mulanya tempe diproduksi dari kedelai hitam, berasal dari masyarakat pedesaan tradisional Jawa—mungkin dikembangkan di daerah Mataram, Jawa Tengah, dan berkembang sebelum abad ke-16.

     Kata "tempe" diduga berasal dari bahasa Jawa Kuno. Pada zaman Jawa Kuno terdapat makanan berwarna putih terbuat dari tepung sagu yang disebut tumpi. Tempe segar yang juga berwarna putih terlihat memiliki kesamaan dengan makanan tumpi tersebut.
    Selain itu terdapat rujukan mengenai tempe dari tahun 1875 dalam sebuah kamus bahasa Jawa-Belanda.Sumber lain mengatakan bahwa pembuatan tempe diawali semasa era Tanam Paksa di Jawa. Pada saat itu, masyarakat Jawa terpaksa menggunakan hasil pekarangan, seperti singkong, ubi dan kedelai, sebagai sumber pangan. Selain itu, ada pula pendapat yang mengatakan bahwa tempe mungkin diperkenalkan oleh orang-orang Tionghoa yang memproduksi makanan sejenis, yaitu koji kedelai yang difermentasikan menggunakan kapang Aspergillus. Selanjutnya, teknik pembuatan tempe menyebar ke seluruh Indonesia, sejalan dengan penyebaran masyarakat Jawa yang bermigrasi ke seluruh penjuru Tanah Air.

    Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Tempe

    Tahukah anda, bagaimana cara pembuatan Tempe?

    Terdapat berbagai metode pembuatan tempe. Namun, teknik pembuatan tempe di Indonesia  secara umum terdiri dari tahapan perebusan, pengupasan, perendaman dan pengasaman, pencucian, inokulasi dengan ragi, pembungkusan, dan fermentasi.
    Pada tahap awal pembuatan tempe, biji kedelai direbus. Tahap perebusan ini berfungsi sebagai proses hidrasi, yaitu agar biji kedelai menyerap air sebanyak mungkin. Perebusan juga dimaksudkan untuk melunakkan biji kedelai supaya nantinya dapat menyerap asam pada tahap perendaman.
    Kulit biji kedelai dikupas pada tahap pengupasan agar miselium fungi dapat menembus biji kedelai selama proses fermentasi. Pengupasan dapat dilakukan dengan tangan, diinjak-injak dengan kaki, atau dengan alat pengupas kulit biji.

    Setelah dikupas, biji kedelai direndam. Tujuan tahap perendaman ialah untuk hidrasi biji kedelai dan membiarkan terjadinya fermentasi asam laktat secara alami agar diperoleh keasaman yang dibutuhkan untuk pertumbuhan fungi. Fermentasi asam laktat terjadi dicirikan oleh munculnya bau asam dan buih pada air rendaman akibat pertumbuhan bakteri Lactobacillus. Bila pertumbuhan bakteri asam laktat tidak optimum (misalnya di negara-negara subtropis, asam perlu ditambahkan pada air rendaman. Fermentasi asam laktat dan pengasaman ini ternyata juga bermanfaat meningkatkan nilai gizi dan menghilangkan bakteri-bakteri beracun.
    Proses pencucian akhir dilakukan untuk menghilangkan kotoran yang mungkin dibentuk oleh bakteri asam laktat dan agar biji kedelai tidak terlalu asam. Bakteri dan kotorannya dapat menghambat pertumbuhan fungi.
    Inokulasi dilakukan dengan penambahan inokulum, yaitu ragi tempe atau laru. Inokulum dapat berupa kapang yang tumbuh dan dikeringkan pada daun waru atau daun jati (disebut usar; digunakan secara tradisional), spora kapang tempe dalam medium tepung (terigu, beras, atau tapioka; banyak dijual di pasaran), ataupun kultur R. oligosporus murni (umum digunakan oleh pembuat tempe di luar Indonesia). Inokulasi dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu (1) penebaran inokulum pada permukaan kacang kedelai yang sudah dingin dan dikeringkan, lalu dicampur merata sebelum pembungkusan; atau (2) inokulum dapat dicampurkan langsung pada saat perendaman, dibiarkan beberapa lama, lalu dikeringkan.
    Setelah diinokulasi, biji-biji kedelai dibungkus atau ditempatkan dalam wadah untuk fermentasi. Berbagai bahan pembungkus atau wadah dapat digunakan (misalnya daun pisang, daun waru, daun jati, plastik, gelas, kayu, dan baja), asalkan memungkinkan masuknya udara karena kapang tempe membutuhkan oksigen untuk tumbuh. Bahan pembungkus dari daun atau plastik biasanya diberi lubang-lubang dengan cara ditusuk-tusuk.
    Biji-biji kedelai yang sudah dibungkus dibiarkan untuk mengalami proses fermentasi. Pada proses ini kapang tumbuh pada permukaan dan menembus biji-biji kedelai, menyatukannya menjadi tempe. Fermentasi dapat dilakukan pada suhu 20 °C–37 °C selama 18–36 jam. Waktu fermentasi yang lebih singkat biasanya untuk tempe yang menggunakan banyak inokulum dan suhu yang lebih tinggi, sementara proses tradisional menggunakan laru dari daun biasanya membutuhkan waktu fermentasi sampai 36 jam.

    sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Tempe

    Selasa, 10 Januari 2012

    Kura-kura Punah Ditemukan Kembali di Galapagos

    REPUBLIKA.CO.ID, GALAPAGOS - Puluhan kura-kura raksasa yang diyakini dari spesies yang telah punah 150 tahun lalu ditemukan kembali di lokasi terpencil wilayah Kepulauan Galapagos. Penemuan ini dipublikasikan dalam jurnal Current Biology.
    Dalam jurnal itu menunjukkan setidaknya ada 38 ekor kura-kura dari kelas Elephantopus Chelonoidis yang tinggal di lereng gunung berapi sekitar 200 mil utara pulau Isabela.

    Keberadaan kura-kura ini jauh dari wilayah endemiknya sebelum dinyatakan punah akibat diburu oleh pencari paus di pulau Floreana.
    "Ini bukan hanya untuk keperluan akademis," kata peneliti senior bidang ekologi dan evolusi biologi dari Yale University, Gisella Caccone, yang dilansir dalam salah satu website ilmu pengetahuan, Selasa (10/1).
    Sebuah tim peneliti Yale mengunjungi Gunung Wolf di ujung utara Pulau Isabela pada 2008. Mereka mengambil sampel darah dari 1.600 kura-kura darat. Mereka kemudian membandingkan sampel dengan database genetik dan spesies kura-kura yang sebelumnya diyakini telah punah.
    Hasil analisis itu mendeteksi tanda genetik Elephantopus C. pada 84 kura-kura Volcano Wolf. Artinya, jenis indukan mereka adalah anggota kelas spesies yang telah punah. Dalam 30 pembiakkan telah terjadi dalam 15 tahun terakhir.
    Dengan perkiraan umur kura-kura bisa melebihi 100 tahun, ada kemungkinan jenis kura-kura ini masih ada yang hidup dan berkembang biak di alam liar. "Ini adalah laporan pertama dari penemuan kembali spesies dengan cara melacak jejak genetik dalam genom keturunan yang telah disilangkan," ujar peneliti Yale University, Ryan Garrick.

    Sumber : http://id.berita.yahoo.com/kura-kura-punah-ditemukan-kembali-di-galapagos-065739401.html

    Sabtu, 17 Desember 2011

    Film Kartun 3D Asli Indonesia

    K.E.R.E.N…. itu kesan pertama saya ketika menonton film pendek ini. Film animasi yang agak mirip transformer ini bukti bahwa animator Indonesia gak kalah dengan animator luar.
    ternyata pembuatnya adalah Lakon Animansi, sebuah studio animasi asal Solo. Walaupun masih pendek tapi kualitas gambarnya oke. Semoga saja ada pengusaha kaya yang bersedia memproduseri studio ini untuk membuat film layar lebar.  Senang rasanya jika tahun depan saya bisa melihat film animasi Indonesia muncul di Layar lebar. saya sendiri jarang ke bioskop karena film Indonesia yang keseringan diisi dengan seks dan horor.
    Tapi kalo belum bisa ke layar lebar, bolehlah Lakon Animasi memasukkan film pendeknya ini ke Televisi. Sayang juga potensi sebesar ini hanya bisa ditonton di Internet. Lumayan kan, ada film Indonesia yang menyaingi Upin dan Ipin (Animasi Malaysia).